Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Juni 2011

Matematikus Terhebat Di Dunia


Jika Anda pernah mempelajari matematika tentu pernah mengenal istilah secan dan co secan. Ternyata, Abul Wafalah yang pertama kali memperkenalkan istilah matematika yang sangat penting itu.

Ahli matematika Muslim fenomenal di era keemasan Islam ternyata bukan hanya Al-Khawarizmi. Pada abad ke-10 M, peradaban Islam juga pernah memiliki seorang matematikus yang tak kalah hebat dibandingkan Khawarizmi. Matematikus Muslim yang namanya terbilang kurang akrab terdengar itu bernama Abul Wafa Al-Buzjani.

Abul Wafa adalah seorang saintis serba bisa. Selain jago di bidang matematika, ia pun terkenal sebagai insinyur dan astronom terkenal pada zamannya.

Kiprah dan pemikirannya di bidang sains diakui peradaban Barat. Sebagai bentuk pengakuan dunia atas jasanya mengembangkan astronomi, organisasi astronomi dunia mengabadikannya menjadi nama salah satu kawah bulan. Dalam bidang matematika, Abul Wafa pun banyak memberi sumbangan yang sangat penting bagi pengembangan ilmu berhitung itu.

“Abul Wafa dalah matematikus terbesar di abad ke 10 M,” ungkap Kattani. Betapa tidak. Sepanjang hidupnya, sang ilmu wan telah berjasa melahirkan sederet inovasi penting bagi ilmu matematika. Ia tercatat menulis kritik atas pemikiran Eucklid, Diophantos dan Al-Khawarizmisayang risalah itu telah hilang. Sang ilmuwanpun mewariskan Kitab Al-Kami (Buku Lengkap) yang membahas tentang ilmu hitung (aritmatika) praktis. Kontribusi lainnya yang tak kalah penting dalam ilmu matematika adalah Kitab Al-Handasa yang mengkaji penerapan geometri. Ia juga berjasa besar dalam mengembangkan trigonometri.

Abul Wafa tercatat sebagai matematikus pertama yang mencetuskan rumus umum si nus. Selain itu, sang mate ma tikus pun mencetuskan metode baru membentuk tabel sinus. Ia juga membenarkan nilai sinus 30 derajat ke tempat desimel kedelapan. Yang lebih menga gumkan lagi, Abul Wafa mem buat studi khusus tentang ta ngen serta menghitung se buah tabel tangen.

Jika Anda pernah mempelajari matematika tentu pernah mengenal istilah secan dan co secan. Ternyata, Abul Wafalah yang pertama kali memperkenalkan istilah matematika yang sangat penting itu. Abu Wafa dikenal sangat jenius dalam bi dang geometri. Ia mampu me nyelasikan masa lah-masalah geometri dengan sangat tang kas.

Sejatinya, ilmuwan serbabisa itu bernama Abu al-Wafa Muhammad Ibn Muhammad Ibn Yahya Ibn Ismail Ibn Abbas al-Buzjani. Ia terlahir di Buzjan, Khurasan (Iran) pada tanggal 10 Juni 940/328 H. Ia belajar matematika dari pamannya bernama Abu Umar al- Maghazli dan Abu Abdullah Muhammad Ibn Ataba. Sedangkan, ilmu geometri dikenalnya dari Abu Yahya al-Marudi dan Abu al-Ala’ Ibn Karnib.

Abadi di Kawah Bulan

Abul Wafa memang fenomenal. Meski di dunia Islam modern namanya tak terlalu dikenal, namun di Barat sosoknya justru sangat berkilau. Tak heran, jika sang ilmuwan Muslim itu begitu dihormati dan disegani. Orang Barat tetap menyebutnya dengan nama Abul Wafa. Untuk menghormati pengabdian dan dedikasinya dalam mengembangkan astronomi namanya pun diabadikan di kawah bulan.

Di antara sederet ulama dan ilmuwan Muslim yang dimiliki peradaban Islam, hanya 24 tokoh saja yang diabadikan di kawah bulan dan telah mendapat pengakuan dari Organisasi Astronomi Internasional (IAU). Ke-24 tokoh Muslim itu resmi diakui IAU sebagai nama kawah bulan secara bertahap pada abad ke-20 M, antara tahun 1935, 1961, 1970 dan 1976. salah satunya Abul Wafa.

Kebanyakan, ilmuwan Muslim diadadikan di kawah bulan dengan nama panggilan Barat. Abul Wafa adalah salah satu ilmuwan yang diabadikan di kawah bulan dengan nama asli. Kawah bulan Abul Wafa terletak di koordinat 1.00 Timur, 116.60 Timur. Diameter kawah bulan Abul Wafa diameternya mencapai 55 km. Kedalaman kawah bulan itu mencapai 2,8 km.

Lokasi kawah bulan Abul Wafa terletak di dekat ekuator bulan. Letaknya berdekatan dengan sepasangang kawah Ctesibius dan Heron di sebelah timur. Di sebelah baratdaya kawah bulan Abul Wafa terdapat kawah Vesalius dan di arah timur laut terdapat kawah bulan yang lebih besar bernama King. Begitulah dunia astronomi modern mengakui jasa dan kontribusinya sebagai seorang astronom di abad X.

Matematika Ala Abul Wafa

Salah satu jasa terbesar yang diberikan Abul Wafa bagi studi matematika adalah trigo no metri. Trigonometri berasal dari kata trigonon = tiga sudut dan metro = mengukur. Ini adalah adalah sebuah cabang matematika yang berhadapan dengan sudut segi tiga dan fungsi trigo no met rik seperti sinus, cosinus, dan tangen.

Trigonometri memiliki hubungan dengan geometri, meskipun ada ketidaksetujuan tentang apa hubungannya; bagi beberapa orang, trigonometri adalah bagian dari geometri. Dalam trigonometri, Abul Wafa telah memperkenalkan fungsi tangen dan memperbaiki metode penghitungan tabel trigonometri. Ia juga tutur memecahkan sejumlah masalah yang berkaitan dengan spherical triangles.

Secara khusus, Abul Wafa berhasil menyusun rumus yang menjadi identitas trigonometri. Inilah rumus yang dihasilkannya itu:

sin(a + b) = sin(a)cos(b) +

cos(a)sin(b)

cos(2a) = 1 – 2sin2(a)

sin(2a) = 2sin(a)cos(a)

Selain itu, Abul Wafa pun berhasil membentuk rumus geometri untuk parabola, yakni:

x4 = a and x4 + ax3 = b.

Rumus-rumus penting itu hanyalah secuil hasil pemikiran Abul Wafa yang hingga kini masih bertahan. Kemampuannya menciptakan rumus-rumus baru matematika membuktikan bahwa Abul Wafa adalah matematikus Muslim yang sangat jenius.

Sabtu, 14 Mei 2011

Kenapa harus ingat MATI ?


Mengingat mati membuat seseorang ragu terhadap kehidupan didunia yang fana ini, sehingga dia selalu mengingat kehidupan akhirat yang kekal abadi. Seseorang tidak akan terlepas dari dua hal yang bertolak belakang, sempit dan lapang, nikmat dan cobaan.

Apabila seseorang sedang berada dalam keadaaan sempit dan mendapat musibah, maka beban yang dirasakannya akan terasa lebih ringan apabila ia mengingat mati. Karena mati lebih berat dari pada musibah yang menimpanya. Ketika seseorang mengingat mati saat mendapat nikmat dan kelapangan, maka ia akan terhindar dari tipudaya yang ditimbulkan oleh kesenangan yang ditimbulkannya.
(Imam Al Qurthubi)

sedikit renungan, semoga bermanfaat

Nilai Sebuah Waktu


Oleh : anangnurcahyo 
Untuk memahami nilai SATU TAHUN, tanyalah pada murid yang tidak naik kelas.
Untuk memahami nilai SATU BULAN, tanyalah pada ibu yang melahirkan bayi prematur.
Untuk memahami nilai SATU MINGGU, tanyakan pada editor koran mingguan.
Untuk memahami nilai SATU JAM, tanyakan pada seseorang yang hendak ditemui kekasihnya.
Untuk memahami nilai SATU MENIT, tanyakan pada orang yang ketinggalan kereta api.
Untuk memahami nilai SATU DETIK, tanyakan pada orang yang lolos dari kecelakaan.
Untuk memahami nilai SATU MILIDETIK, tanyakan pada orang yang memenangkan medali perak dari olimpiade.

Betapa waktu sangat berharga untuk kita. karena harta kita yang tidak akan pernah kembali setelah kita kehilangannya adalah WAKTU. Hargai waktu, karena dia tidak akan pernah mau menunggu siapapun.
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. ” ( QS Al ‘asr: 1-3 )

Sedikit renungan, semoga bermanfaat..

Jumat, 13 Mei 2011

Ikhlas Tempat Persinggahan Iyyaka Na’budu Wa Iyyaka Nasta’in

renungan islam, renungan, islam, ikhlas
Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah
__________________________________________________________________________________
Sehubungan dengan tempat persinggahan ikhlas ini Allah telah berfirman di dalam Al-Qur’an, (artinya):
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (Al-Bayyinah: 5)
“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).”
(Az-Zumar: 2-3)
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.”
(Al-Mulk: 2)

Al-Fudhail berkata, “Maksud yang lebih baik amalnya dalam ayat ini adalah yang paling ikhlas dan paling benar.”
Orang-orang bertanya, “Wahai Abu Ali, apakah amal yang paling ikhlas dan paling benar itu ?”
Dia menjawab, “Sesungguhnya jika amal itu ikhlas namun tidak benar, maka ia tidak diterima. Jika amal itu benar namun tidak ikhlas maka ia tidak akan diterima, hingga amal itu ikhlas dan benar. Yang ikhlas ialah yang dikerjakan karena Allah, dan yang benar ialah yang dikerjakan menurut As-Sunnah.” Kemudian ia membaca ayat, (artinya): “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (Al-Kahfi: 110)


Allah juga berfirman, (artinya):
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan?” (An-Nisa’: 125)
 
Menyerahkan diri kepada Allah artinya memurnikan tujuan dan amal karena Allah. Sedangkan mengerjakan kebaikan ialah mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Sunnah beliau.
Allah juga berfirman, (artinya):
“Dan, Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (Al-Furqan: 23)
 
Amal yang seperti debu itu adalah amal-amal yang dilandaskan bukan kepada As-Sunnah atau dimaksudkan bukan karena Allah. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada Sa’ad bin Abi Waqqash, “Sesungguhnya sekali-kali engkau tidak akan dibiarkan, hingga engkau mengerjakan suatu amal untuk mencari Wajah Allah, melainkan engkau telah menambah kebaikan, derajad dan ketinggian karenanya.”
Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, (artinya):
“Tiga perkara, yang hati orang mukmin tidak akan berkhianat jika ada padanya: Amal yang ikhlas karena Allah, menyampaikan nasihat kepada para waliyul-amri dan mengikuti jama’ah orang-orang Muslim karena doa mereka meliputi dari arah belakang mereka.” (HR. At-Thirmidzi dan Ahmad)


Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang berperang karena riya’, berperang karena keberanian dan berperang karena kesetiaan, manakah diantaranya yang ada di jalan Allah? Maka beliau menjawab, “Orang yang berperang agar kalimat Allah lah yang paling tinggi, maka dia berada di jalan Allah.
Beliau juga mengabarkan tiga golongan orang yang pertama-tama diperintahkan untuk merasakan api neraka, yaitu qari’ Al-Qur’an, mujahid dan orang yang menshadaqahkan hartanya; mereka melakukannya agar dikatakan, “Fulan adalah qari’, fulan adalah pemberani, Fulan adalah orang yang bershadaqah”, yang amal-amal mereka tidak ikhlas karena Allah.

Di dalam hadits qudsi yang shahih disebutkan; “Allah berfirman, ‘Aku adalah yang paling tidak membutuhkan persekutuan dari sekutu-sekutu yang ada. Barangsiapa mengerjakan suatu amal, yang di dalamnya ia menyekutukan selain-Ku, maka dia menjadi milik yang dia sekutukan, dan Aku terbebas darinya’.” (HR. Muslim)
Di dalam hadits lain disebutkan; “Allah berfirman pada hari kiamat, ‘Pergilah lalu ambillah pahalamu dari orang yang amalanmu kamu tujukan. Kamu tidak mempunyai pahala di sisi Kami’.”


Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh kalian dan tidak pula rupa kalian, tetapi Dia melihat hati kalian.” (HR. Muslim)


Banyak difinisi yang diberikan kepada kata ikhlas dan shidq, namun tujuannya sama. Ada yang berpendapat, ikhlas artinya menyendirikan Allah sebagai tujuan dalam ketaatan. Ada yang berpendapat, ikhlas artinya membersihkan perbuatan dari perhatian manusia, termasuk pula diri sendiri. Sedangkan shidq artinya menjaga amal dari perhatian diri sendiri saja. Orang yang ikhlas tidak riya’ dan orang yang shidq tidak ujub. Ikhlas tidak bisa sempurna kecuali shidq, dan shidq tidak bisa sempurna kecuali dengan ikhlas, dan keduanya tidak sempurna kecuali dengan sabar.

Al-Fudhail berkata, “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’, Mengerjakan amal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas ialah jika Allah memberikan anugerah kepadamu untuk meninggalkan keduanya.”
Al-Junaid berkata, “Ikhlas merupakan rahasia antara Allah dan hamba, yang tidak diketahui kecuali oleh malaikat sehingga dia menulis-nya, tidak diketahui syetan sehingga dia merusaknya dan tidak pula diketahui hawa nafsu sehingga dia mencondongkannya.”
Yusuf bin Al-Husain berkata. “Sesuatu yang paling mulia di dunia adalah ikhlas. Berapa banyak aku mengenyahkan riya’ dari hatiku, tapi seakan-akan ia tumbuh dalam rupa yang lain.”

Pengarang Manazilus-Sa’irin berkata, “Ikhlas artinya membersihkan amal dari segala campuran.” Dengan kata lain, amal itu tidak dicampuri sesuatu yang mengotorinya karena kehendak-kehendak nafsu, entah karena ingin memperlihatkan amal itu tampak indah di mata orang-orang, mencari pujian, tidak ingin dicela, mencari pengagungan dan sanjungan, karena ingin mendapatkan harta dari mereka atau pun alasan-alasan lain yang berupa cela dan cacat, yang secara keseluruhan dapat disatukan sebagai kehendak untuk selain Allah, apa pun dan siapa pun.”

Dipetik dari: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, “Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in, Edisi Indonesia: Madarijus Salikin Pendakian Menuju Allah.” Penerjemah Kathur Suhardi, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta Timur, Cet. I, 1998, hal. 175 – 178 

Minggu, 01 Mei 2011

Cinta dan Benci (Tenaga Dasyat Kehidupan Manusia)


Tenaga apakah yang menggerakkan kehidupan?. Cinta dan kebencian. Kedua-dua itulah yang mewarnai sejarah hidup manusia menjadi putih atau hitam. Kerana cinta, Adam dan Hawa bersatu. Kerana cinta, Taj Mahal di India terbina. Dan banyak lagi bukti di dalam dunia nyata ini betapa angungnya cinta itu.

Berawal dari cinta, cerita kehidupan diputar. Tapi sayang, sejak awal mula kisah sejarah manusia ini, cinta telah dikotori oleh kebencian. Kebencianlah yang menyebabkan Qabil membunuh Habil, sebuah tragedi paling tragis untuk pertama kalinya dalam sejarah kemanusiaan. Pembunuhan manusia oleh manusia. Ya, cinta dan kebencian pulalah yang saat ini kita saksikan meramaikan drama kehidupan. Dunia ini dipenuhi dengan kisah cinta yang begitu mempesona, juga kisah kebencian yang sangat memilukan.

Cinta membuat dunia menjadi kelihatan ‘hidup’, damai, sejuk, indah, penuh pesona. Sebaliknya kebencian menjadikan dunia ini nampak membujur kaku seperti mayat, seperti perkuburan. Aromanya menyengat tak ubahnya bangkai. Bunga-bunga menjadi layu. Setiap mata menatap penuh kekosongan, kesedihan dan kepiluan.

Cinta menawarkan titis-titis air yang sungguh menyejukkan. Setiap titisannya menghidupkan jiwa yang gersang. Tiap titisannya adalah syurga. Kebencian menyebarkan aroma darah, menitiskan air mata. Tiap titisnya membuat jiwa menjadi gersang. Tiap titisnya adalah api, membakar kehidupan. Panas yang luar biasa. Cinta menggerakkan kebaikan. Kebencian memunculkan kejahatan. Sejarah kebaikan adalah sejarah cinta. Sejarah kejahatan adalah sejarah kebencian. Maka tebarkanlah cinta di segenap penjuru dunia. Berjalanlah dengan cinta. Siramlah setiap relung jiwa yang hampa dengan cinta, niscaya ia menjadi hidup dan penuh pesona.

Pada tahun 1932 Albert Einstein menulis surat kepada Sigmund Freud untuk bertanyakan pendapatnya. Antara kandungan suratnya berbunyi, Apa yang dapat dilakukan manusia agar terhindar dari kutukan peperangan?

Pertanyaan itu muncul barangkali kerana dunia pada masa itu mash dihantui oleh Perang Dunia Pertama yang mengejutkan manusia diseluruh eropah, justeru akibat kerosakan dan penderitaan yang harus ditanggung oleh mereka. Sebagai seorang yang mempunyai keahlian ilmu jiwa, Freud menjelaskan dalam surat yang ditulis sebagai esei yang terkenal iaitu Why War (Mengapa Perang).

Dia menghuraikan tentang adanya dua insting atau lebih mudah disebut sebagai sifat utama manusia iaitu insting Cinta dan insting Benci.

Insting cinta itu baik. Kerana manusia yang memiliki insting ini akan mempunyai sikap positif dengan membawa kepada sikap peduli dan saling memberikan kasih sayang. Ini mengandaikan adanya kepedulian terhadap hidup orang lain, keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan orang lain.

Namun begitu insting ini juga membawa sekaligus insting kebencian kalau sikap cinta dan kasihnya terhadap orang lain disertai dengan niat memiliki kepada yang dicintainya itu. Dengan itikad ingin memiliki itu, maka terjadilah penguasaan, diktator dan penjajahan dari sipencinta kepada yang dicintai.

Dan kalau perasaan merasa tidak bebas dari yang dicintai ini memberontak, maka terjadilah konflik. Dan konflik ini selalunya diakhiri dengan pemberontakan dan saling mengadu kekuatan. Siapa yang kalah akan menjadi hamba dan siapa yang memang akan menjadi majikan atau dengan kata lain menjadi penguasa.

Maka dari itu bermulalah penderitaan manusia. Pada dasarnya hal-hal yang mirip dengan kedaan sedemikian dapat dilihat dalam praktikal kehidupan sehari-hari kita. Contohnya kedua ibubapa sering mengatakan dirinya sangat mencintai anak-anaknya, seringkali berubah menjadi diktator kepada anak-anaknya. Mereka mahu membentuk anak-anak itu mengikut kemahuanya sendiri.

Anaknya mesti menjadi seorang doktor agar hidupnya kelak tidak sia-sia dan mempunyai masa depan yang baik meskipun si anak merayu mahu memilih jurusan dalam bidang kesastrawan atau mungkin bidang-bidang lain yang sangat jauh bezanya dari bidang kedoktoran. Inilah salah satu konflik yang banyak terjadi dalam masyarakat kita. Bila hal-hal ini terjadi, kebanyakkan dari orang tua akan mengunakan kuasa veto’ mereka kepada si anak tadi supaya harus mengkuti kemahuanya. Dalam hal ini, kebahagiaan siapakah yang ingin diwujudkan? Kebahagiaan ibu bapa atau kebahagiaan anak?

Dalam akhbar harian atau tabloit mingguan seriang kita membaca tentang berita ada seorang lelaki yang telah beristri mencintai seorang gadis yang masih dara. Lalu cinta si lelaki tadi berbalas. Akan tetapi apabila istri kepada si lelaki tadi mengetahui bahawa suaminya mencintai wanita lain yang masih muda jelita apa lagi ianya masih dara, berkobarlah rasa bencinya dan dengan begitu tega membunuh si wanita jelita yang dicintai suaminya itu.

Insting cintanya telah berubah menjadi insting merosakan dan membenci, kerana lelaki yang telah mempunyai istri tadi ingin memiliki si gadis bagi kesenanganya sendiri. Boleh jadi juga si istri yang sebelum itu sangat mencintai suaminya akan turut sama membunuh suaminya kerana cintanya telah bertukar menjadi benci dengan mendadak.

Ada juga sebuah sekolah yang sangat ingin menjadi sekolah terbaik dalam negeri itu bahkan sangat ambisi untuk menjadi salah satu dari 10 buah sekolah yang terbaik dalam negara dengan tingkat kedisiplinan yang tinggi yang secara luaranya sangat terpuji. Maka demi ambisinya itu pemimpin sekolah tersebut sama ada Pengetua atau Guru Besar termasuk guru-guru pengajar menjadi diktator atas murid-muridnya. Dijalankan disiplin yang keras dan berunsur paksaan untuk belajar di luar kewajaran. Hari-hari murid, di sekolah atau dirumah, harus diisi dengan belajar dan belajar. Murid-murid dijadikan korban atas ambisi dan cita-cita sekolah.

Dari episod-episod diatas dengan mudah kita membuat kesimpulan betapa insting cinta boleh berubah menjadi insting benci jika disertai niat menguasai.

Ajaran-ajaran moral terbesar dalam sejarah umat manusia selalu menekankan adanya kasih sayang, cinta antara sesama manusia. Cintailah orang lain seperti saudaramu, meskipun ia berlainan budaya, berlainan kelas sosial, berlainan bangsa, berlainan negara, berlainan agama, usia, keturunan hingga berlainan taraf kehidupan.

Cinta menyatukan, mendamaikan, membahagiakan dan menyenangkan. Kebencian pula melahirkan konflik, kekerasan, perosakan, kebinasaan dan kehancuran umat manusia.

Seperti yang dikatakan Freud, naluri cinta itu berubah menjadi benci kalau disertai dengan nafsu ingin memiliki, iaitu dijadikan objek yang dicintai itu sebahagian dari kebahagiaan dirinya sendiri. Pemikiran ini dikembangkan oleh Erich Fromm dalam bukunya yang terkenal To Have and To Be (Memiliki Dan Menjadi).

Cara hidup ingin memiliki sebenarnya adalah naluri cinta yang berakhir dengan penderitaan, kerosakan, kebinasaan sehingga kematian dari yang dicintai. Cara hidup menjadi inilah hakikat cinta manusia yang sesungguhnya.

Kita mencintai seseorang bukan demi kepentingan semata-mata, tetapi demi yang kita cintai agar tumbuh dan berkembang mencapai kebahagiaanya sendiri. Dengan menolong orang lain, kita menjadi seorang penolong. Dengan memberi kepada orang lain, kita akan tumbuh menjadi seorang pemberi. Dengan melakukan kebaikan terhadap orang lain, diri kita akan tumbuh menjadi orang baik.

Nafsu ingin memiliki ini pula berpusat pada kepentingan diri sendiri. Dengan memiliki kita akan menguasai dan bebas mempergunakan kepemilikan kita untuk kebahagian kita sendiri.

Dalam cara mencintai dan cara hidup ini, maka harus ada yang manjadi korban kepemilikan. Anak menjadi korban kepemilikan ibubapa, si gadis menjadi korban nafsu seksualiti lelaki beristri, murid-murid menjadi korban atas pemburuan ranking nasional. Dari hal demikian, siapakah yang sebenarnya bahagia? Kita mencintai anak-anak kita justeru kerana sedar bahawa mereka adalah manusia dengan karakter dan bercita-cita lain dan tidak sama dengan kita sebagai ibubapanya. Kewajipan cinta kita pada mereka adalah membantu mewujudkan apa yang di inginkan dan apa yang boleh membantu mereka bahagia oleh kita kepada mereka yang kita cintai.

Mencintai , menolong, membantu, berbuat baik kepada orang lain boleh berubah menjadi tindakan diktator dan berakhir dengan jatuhnya korban percintaan, kalau kondisi dan keperluan yang kita cintai tidak di perhitungkan. Mencintai orang lain, berbuat baik untuk orang lain, ternyata tidak semudah yang kita duga. Mencintai dan berbuat baik itu bukan sekedar niat dan tindakan, tetapi juga dengan pengenalan, pengetahuan, pengorbanan, strategi terhadap yang kita cintai dan yang paling utama adalah keikhlasan mencintai tampa ada mempunyai rasa ingin memiliki terhadap sesuatu yang kita cintai itu. Kalau tidak demikian, maka cinta boleh menjadi malapetaka bagi yang kita cintai itu.

Kalau anda jatuh cinta, anda ingin tahu secara terperinci hidup orang yang anda cintai. Misalnya ketika pertama kali bertemu dalam kereta api atau dalam bas dalam sebuah perjalanan yang panjang. Bagaimana riwayat hidupnya, keluarganya, bintang horoskopnya, kesihatanya, cita-citanya dan lain-lain dalam erti kata hal-hal yang terpenting dalam hidupnya. Dan anda mempergunakan taktik melalui informasi itu untuk menyusun strategi bagaimana lebih jauh menaklukan hatinya.

Kalau kita mencintai orang miskin, orang menderita stres (dalam tekanan), orang kena musibah, orang yang sedang bingung, maka kita harus berbuat yang sama sepertinya dan turut merasakan betapa anda simpati dan ingin membahagiakannya.

Surat Einstein kepada Freud menyangkut hal-hal berkenaan dengan perang dan penderitaan serta membuat beberapa andaian kemungkinan lenyapnya spisis bernama manusia akibat perang dimuka bumi ini. Konflik kepentingan, kepemilikan, pemusnahan adalah naluri kebencian manusia. Seperti cinta, manusia juga harus mengenali, memahami dan merasakan akibat kebencian terhadap orang lain.

Dannion Brinkley yang menceritakan pengalaman mati sehingga dua kali dalam bukunya yang bertajuk Saved By The Light, mengisahkan bagaimana dirinya merasa rendah dan hina oleh kejahatan-kejahatanya memukuli orang lain semasa hidupnya. Ia bukan sahaja ingat secara terperinci akan perbuatanya, tetapi juga suasana dan perasaan si korban semasa dia menganiayanya. Dengan mengenali dan merasakan akibat kejahatanya, jiwa Brinkley menilai perbuatanya sendiri yang tidak baik itu. Mengenali dengan baik penderitaan, kebahagiaan, keinginan, kekuatan dan kelemahan yang kita cintai atau kita benci, kiranya dapat mengajar dan memberikan keinsafan kepada kita agar kita mencintai orang lain dengan lebih baik dan benar.

Mencintai sesama manusia itu tidak semudah yang difikirkan. Lebih mudah untuk ditulis dan dihuraikan serta dianalisis dari dijalankan atau di praktikalkan. Sebab cinta itu perbuatan nyata tetapi juga tidak nyata. Kerana ia melibatkan perasaan yang disertai dengan niat yang baik. Dan niat itu juga haruslah dibekali dengan keikhlasan dari keinginan untuk memiliki dan menguasai. Dan perasaan serta perbuatan itu hanya ada dalam diri si pencinta dan yang dicinta. Maka pengetahuan dan pengenalan ketiga unsur cintai itu harus di fahami sebelum terlibat dengan apa yang dinamakan CINTA.

Manakah sumber kekuatan kita?

Sedikit renungan, semoga bermanfaat..

“Tentang Cinta” syaiful bakri diposkan : anangnurcahyo

Sabtu, 30 April 2011

Dr. Hamka (Haji Abdul Karim Amrullah) Seorang Sufi


Orang berdarah minang ini adalah termasuk orang yang langka kita jumpai, kenapa? Berawal dari pendidikan sekolah desa tiga tahun, dan itupun tidak tamat, namun selalu memperdalam pengetahuannya, memperdalam bahasa Arab yang diketahuinya sepotong-sepotonng, namun dapat dipergunakannya untuk membaca buku- buku dari segala tema.

Pada usia 15 tahun Dr. Hamka sudah berani merantau ke tanah Jawa untuk berguru kepada pemimpin Islam yang terkenal, yaitu Ki Adi Kusumo, Tjokro Aminoto, Agus Salim, dan AR. ST. Mansyur (kakak iparnya), dan pada usia ini pula ia sudah berani mengikuti seminar-seminar Mubaligh Muhammadiyah, dan untuk memperdalam kembali pengetahuannya tentang dunia Islam, dalam usia 19 tahun berkat usaha sendiri dan bantuan dari neneknya ia berangkat ke tanah suci untuk naik haji.

Sejak muda ia jika diamati lebih condong untuk memperdalam ilmu agama Islam, mempelajari ilmu tasauf. Hal ini dapat dibuktikan dengan terbitnya sebuah buku berjudul Tasauf Modern, yang terbit pertama tahun 1939 (sampai sekarang buku tersebut telah berpuluh kali dicetak ulang, dan cetakan terakhir tahun 2000). Selain buku tersebut, buku-buku karangan beliau tentang roman, sejarah, sosial, buku-buku agama selalu mengandung unsur-unsur tasauf.

Ketika beliau tinggal di daerah Kebayoran Baru, di samping masjid Al-Azhar, beliau mengadakan pengajian malam hari, pengajian ini bernama pengajian selasa karena memang diadakan setiap malam selasa, sedangkan jamaahnya adalah pedagang dari Tanah Abang yang sebagian besar dari tanah Minang. Pada awalnya para peserta pengajian malam selasa belajar ilmu tasauf yang tujuannya agar dapat ilmu kesaktian seperti; tahan api, tidak luka bila terkena senjata tajam, sebagian dari pengikut pengajian itu berasal dari suku Tanjung yaitu satu suku dengan beliau, beliau bergelar Datuk Indormo (sebagai kepala suku Tanjung). Mendengar berita banyak “orang awak” belajar ilmu tasauf untuk sakti, tokoh-tokoh suku Tanjung di panggil beliau ke rumahnya untuk diberikan penjelasan. Alhasil dari pertemuan itu, setiap malam selasa orang awak itu datang ke rumah belaiu untuk mendengar pengajian tasauf yang sebenarnya dari beliau.  

Pada malam selasa pertama jamaah yang datang hanya 8 orang, sebagian besar masih family beliau. Pada malam pertama itu belaiu menjelaskan bahwasannya tasauf itu jalan menuju keridhoan Allah, jalan mendekatkan diri kepada Allah. Dengan menggiatkan ibadah, berdzikir dan memuji kebesaran Tuhan, penganut tasauf lebih banyak mendekatkan perasaan, ibadah bagi mereka adalah kehidupan. Pada pengajian pertama ini Beliau juga mengenalkan ahli-ahli tasauf yang terkenal dari abad ke-3 dan ke-4, seperti; Zen Nur, Abu Yasid Bustami, Al-Juned, Husin Mansur Al-Hallaj. 

Setiap malam selasa, sebelum Beliau menerangkan ilmu tasauf, prilaku dan ajarannya, beliau terlebih dahlu bercerita tentang tokoh-tokoh sufi tersebut. Dimulai dari Zen Nur nama besarnya sebagai guru sufi, Abdul Faizin Nun Al Mishri. Sufi ini lebih mencintai Allah. Cintailah Tuhan dan bencilah kepada yang di benci Allah. Menurut garis yang diperintahkan Allah, jangan pandai melihat kehebatan dari yang hebat adalah Allah.

Malam selasa kadua pengikut bertambah menjadi 15 orang. Satu persatu ahli-ahli tasauf di atas di bahas oleh beliau, didahului cerita tentang tokoh-tokoh tersebut.  Di malam ke empat, jumlah lebih banyak lagi. Ada sekitar 60 orang. Malam selasa yang lalu beliau berencana akan menceritakan tentang kehidupan Al Hallaj (Husin Mansur M. Mallaj), tokoh sufi sangat kontroveksi.

Al Hallaj lahir di daerah Persia. Dalam usia 16 tahun dia mulai belajar kepada seorang sufi yang  terkenal Sahi bin Abdullah Al  Tusten : semangat menuntut ilmu tasauf Al Hallaj hampir semua guru-guru sufi didatanginya. Tiga kali dia menunaikan haji. Ketika mulai mengembara sambil menimba ilmu tasauf dari guru-guru sufi ternama. Banyaklah orang tertarik akan fatwa yang biasanya diucapkan dengan cara pantun dan bersyair.

Para ahli fiqh dan ulama-ulama mulai resah dengan fatwa-nya menyampaikan fahamnya yang aneh-aneh.
1.        Hulah, yaitu Tuhan menjelma kedalam diri insan yang bersih dari dosa.
2.        Massalah Nur Muhammad, menurut keyakinan Al Hallaj, sebelum alam diciptakan oleh Allah, Nur Muhammad telah terlebih dahulu diciptakan. Asal usul segala amal, ilmu pengetahuan. Dan dengan perantara Nur Muhammad inilah alam semesta diciptakan Allah.
3.        Kesatuan segala agama.
Menurut Al Hallaj bila batin seseorang telah bersih di dalam kehidupan beragama akan naiklah kehidupan.
Dia membagi 3 tingkat : 1. Muslim; 2. Mukmin; 3. Mugarabin
Mugarabin yang akan mendekatkan diri kita dengan Allah. Di atas mugarabin, puncaknya akan bersatu dengan Tuhan.
Nampaknya Al-Hallaj sampai di puncak mugarabin sehingga di merasakan dirinya Tuhan, diapun ikut melihat Allah menjelma kedalam dirinya. Tidak ada lagi kehendak berlaku. Karena kehendaknya merupakan kehendak Tuhan. Ruh Allah meliputinya.

Belaiu mengutip fatwa berupa syair yang di ucapkan oleh Al Hallaj dengan hapalan yang sempurna tanpa membacanya.  
(terjemahan).  
1.        Saya orang yang saya rindui, ”orang yang saya rindui adalah saya”
Kami dua jiwa menjadi satu, kalau kau lihat saya, kaupun melihat dia, bila kau lihat dia kau pun melihat aku.
2.        Telah bercampur roh mu dalam roh ku, laksana bercampurnya khamar dengan air yang jernih, bila meyentuh sesuatu, tersentuh aku, sebab itu, engkau adalah aku, dalam segala hal. Sama artinya : saya lah Tuhan, Anna al-haq

Ajaran yang dianggap sesat oleh para ulama fiqih menyebabkan Al Hallaj dimasukkan penjara. di penjara pertama, sufi ini dapat melarikan diri.

Ada lagi ajaran Al Hallaj yang tak disenangi oleh kaum ulama fiqih yaitu tentang kesatuan agama. Menurut Al Hallaj agama karena takdir Allah. Perdalam saja agama dengan benar dan bersih tidak usah ada perselisihan. Ajaran inilah meyebabkan Al Hallaj diadili. Dia tetap pada pendiriannya. Ucapan “Anna Al Haq” merupakan ajarannya.

Dalam sidang pengadilan yang juga diusulkan oleh Khalifah Al Muskadir, Al Hallaj harus di hukum mati.

Pada hari eksekusi Al Hallaj di penuhi oleh masyarakat yang terdiri dari pihak pembenci dan dari pihak pencintanya. Sebelum dieksekusi beliau meminjam sejadah dari Syebhi. Al Hallaj shalat dua rakaat. Dalam shalatnya dua rakaat itu Al Hallaj membaca surat Al Baqarah ayat 155. Pada rakaat kedua setelah Al Fatihah beliau membaca surat Al Imran ayat 85. Setelah shalat kembali Al Hallaj bersair meyampaikan fatwahnya :
1.        Saya mencari tempat yang tentram di atas bumi tahulah saya bukan di bumi tempat yang tentram aku ikuti saja khendak mauku, aku diperbudaknya kalau ku cukupkan yang ada, akupun mardekalah.
2.        Saya serahkan diriku memikul kesaktian hanyalah karena ku tahu karena mutlak yang akan meyembuhkan.
Wahay temaptku bermohon dan himpunan cita-citaku lebih nyaman bagiku, dari pada dunia dan isinya jiwa yang sedang menderita, sabar menderita semoga yang menjemput. Dia sendiri yang mengobati”.

Algojo telah menaik ketempat eksekusi. Para ulama fiqih dan algojo kawatir. Syair patwa Al Hallaj akan mempengaruhi para pengikut Al Hallaj si sufi yang tambah banyak berdatangan ketempat eksekusi.

Al gojo yang bernama Abu Horst, mula-mula muka Al Hallaj di hantamnya oleh gagang pedang. Dari Al Hallaj haya terdengar: ”Allah, Allah,” tidak ada jeritan kesakitan. Abu Hast kembali beraksi. Pertama dipatahkannya kedua kaki dan ke dua belah tangan Al Hallaj. Tetap sufi yang bayak pengikutnya itu tidak menjerit atau mengeluh kesakitan. Dari mulutnya tetap terdengar “Allah, Allah.”

Tubuh Al Hallaj yang telah di patahkan kedua tangan dan kakinya dinaikan kesebuah palang seperti orang yahudi menghukum seorang penjahat. Al Hallaj dipaku di atas palang tadi dalam ke adaan setengah sadar. Salah seorang mendekat ”wahay guru apahkah itu tasauf “

Dengan terbata-bata Al Hallaj menjawab, ”yang kau lihat inilah arti tasauf”. Beliaupun wafat. Mayatnya dibakar, abunya dibuang ke sungai Dajlah.

Beliau terus bercerita: menurut sebuah legenda, ketika muka Al Hallaj di pukul dengan gagang pedang, darahpun mengucur dari luka ituh, menetes kebawah. Setiap tetes itu yang jatuh itu mengeluarkan suara : “Allah, Allah.”

Tiba-tiba saja seorang perserta pengajian yang mendengar cerita, bangkit berdiri dan berteriak-triak meyebut “ Allah, Allah, Allah” mengeilingi tempat jamaah yang lain. Rupanya cerita beliau cukup mencekam hingga salah satu dari pendengarnya kesurupan. Orang kesurupan itu di angkat oleh jamaah yang lain untuk di tenangkan.

1.        Judul cerita ku (Irfan Hamka). ”ayah ku seorang sufi,” tidak begituh saja. Aku mendengar waktu ayah keliling ke Sumatra Tengah dan Riau. Masuk hutan keluar hutan, tidak pernah bertemu dengan harimau, padahal hutan waktu itu merupakan tempat tinggal atau istana harimau. Cerita abang Ichsan, “kami hanya mendengar suara harimau dari jauh, harimau itu seakan menghilang”.
2.        Terjadi ayah menempeleng seorang jagoan (Bang Aw) tanpa perlawanan. Kemudian hari Bang Aw bercerita ketika ayah menempeleng itu, dibelakang ayah duduk seorang laki-laki berjubah yang sangat berwibawa, saya takut melihat seorang berubah di belakang Uwo Haji Hamka hingga saya diam saja, Haji Hamka menempeleng saya.
3.        Waktu Angku Jangut, ayahnya Aw datang ke masjid menemui ayah rencana ingin mengajak duel. Namun batal. Dilihatnya ayah sangat jernih raut mukanya. Padahal semua orang tahu wajah ayah banyak bekas penyakit cacar. “wajahnya saja jernih. Agak bercahaya pula, lalu saya putuskan membatalkan niat saya untuk mengadu ilmu dengan Hamka. Saya berfikir Hamka bukan lawan saya lagi. Timbul takut saya”, kata pendekar ternama itu. (cerita ini kudapat dari salah seorang Datuk Suku Jambek yang kutemui pada acara peresmian Museum Buya Hamka di Maninjau).
4.        Menghadapi tiga baya di padang pasir. Angin putting beliung pasir, supir tertidur dalam mengemudikan mobil dengan kecepatan 120 mil/jam, dan pada saat dilanda air bah di gunung granit. Beliau diselamatkan oleh Allah Swt.
5.        Masa gerilya tahun 1948, ayah mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh perjuangan disebuh dusun di dekat Matur, malam harinya ketika peserta mau istirahat, tiba-tiba rumah panggug tempat mereka berkumpul seperti ada yang memukul tiang-tiang rumah kayu itu sampai bergetar.
Ayah segera memerintahkan kepada yang hadir untuk menyingkir dari rumah itu, dengan mengucapkan; sebentar lagi ada bahaya. Banyak yang tidak percaya lalu ayah mengajak abang Rusjdi dan Ichsanudin untuk segera keluar. Ada juga yang ikut, yang tidak percaya segera tidur.
Setelah beberapa jauh ayah dan rombongan kecil itu mendengar sura dentuman berkali-kali dari arah bukit ternyata tentara Belanda telah mengepung dusun, dalam waktu sekejap dusun tersebut telah dibumi hanguskan oleh Belanda banyak korban tewas. Sedangkan ayah dan rombongan kecil itu selamat. Ketika dinyatakan kepada ayah apa sebab ayah itu tau bahaya akan datang? Ayah menjawab: “pertanda dari Allah yang membuat kayu penyangga rumah seperti ada yang memukul.”
6.        Ayah berdamai dengan jin;
Semua itu saya ceritakan ke Buya ST. Mansyur, guru yang sangat dimuliakan ayah jawab ST. Mansyur, “Hamka tidak pernah melepas dzikir dan mengaji Al-Qur’an dan selalu ingat kepada Allah. Baik pada setiap orang tanpa melihat latar belakang orang itu. Sudah pantas Hamka di lindungi Allah. Allah akan melindungi sufi-sufi yang bersih, tetap beriman kepadanya walaupun banyak godaan-godaan.
Menurut Buya St. Mansyur, Buya Hamka adalah seorang sufi dia tau kejadian yang akan datang dan dapat mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Aku yang banyak mengalami peristiwa-peristiwa aneh setuju dengan Buya St. Mansyur, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu. Memang ayahku seorang sufi.
Bedanya dengan Al-Hallaj ayah tidak mengakui dua wujud menjadi satu seperti yang diajarkan Al-Hallaj, Anna al haq. Tuhan adalah aku. Ayah tetap berpegang kepada tali Allah dan taat melaksanakan perintahnya dan meninggalkan larangannya.  

Nama besar beliau banyak diabadikan lebih khusus dalam bidang pendidikan, tentunya hal ini sebagai sebuah penghargaan atas jasa-jasa beliau, dan semoga menjadi inspirasi buat kita semua. salah satu penghargaan atas nama besar beliau adalah digunakan pada sebuah Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA di Jakarta yang disingkat UHAMKA.


*) Sebuah petikan dari buku “Kisah-kisah Abadi Bersama Ayahku Hamka – Irfan Hamka, (2010).