Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Mei 2011

Kata Bijak Kehidupan

Kata bijak kehidupan ini saya harapkan menjadi inspirasi pengunjung blog peluang usaha ini. Kata bijak tentang kehidupan yang saya yakini menjadi bagian penting dari sebuah proses kehidupan. Sebeluamnya saya juga memposting kata bijak tentang cinta silahkan anda kunjungi. Ada juga kata mutiara motivasi dan kata mutiara persahabatan serta kata mutiara cinta.
Kata kata bijak kehidupan by gusbud. Jangan pernah takut menjadi seperti yang engkau inginkan karena sesungguhnya kau tidak akan bahagia menjadi yang seperti orang lain inginkan


Kata kata bijak kehidupan by gusbud. Jangan menjadi biasa saja, untuk sukses anda harus spesial dan mempunyai nilai lebih

Kata kata bijak kehidupan by gusbud. Yang anda butuhkan untuk meraih cita2 adalah keinginan kuat yang akan membawa anda menjadi pekerja keras

Kata kata bijak kehidupan by gusbud. Kenapa hanya 2% penduduk Indonesia yang menguasai 60% kekayaan di Negeri ini karena memang 98% dari kita tidak pernah benar2 ingin menjadi kaya, hanya sekedar berkhayal menjadi kaya

Anda mungkin tidak begitu percaya bahwa keinginan anda akan terwujud hanya dengan dimulai dari kepercayaan bahwa anda akan mencapainya. Keinginan kuat akan menjadi doa disetiap detik kehidupan kita, dan itu pula yang akan menjukan jalan2 bagaiamana kita memperoleh keinginan kita. Kehidupan tidak untuk dijalani dengan biasa2 saja, ada 75% kemampuan otak kita yang belum termanfaatkan hanya 20% kapasitas hidup yang mampu kita nikmati, selebihnya banyak yang tersia-siakan sampai waktu manusia habis. Mohon maaf jika malah mirip contoh teks pidato sekedar share pemahaman:)


Sumber: http://www.gusbud.web.id

Minggu, 08 Mei 2011

Cibodas (Tour Perpisahan Mutiarajaya 2011)

Siap, grak! hadap kiri, grak! berhitung!.

Begitulah kiranya mereka di tiga tahun yang lalu tat kala menginjakan kakinya di Mutiarajaya, namun tak terasa waktu berjalan begitu cepat, hari demi hari, minggu ketemu minggu, bulan ketemu bulan dan tahun terus berganti. Tibalah saatnya seperti pepatah mengatkan "tiada pesta yang tak berakhir", pun kita jua harus berpisah.

Dadap tertawa, gagap tersenyum, Tatu bergaya semua Tertawa, begitulah gambaran yang saya tangkap dari di wajah anak-anak peserta Tour Perpisahan (Mutiarajaya 2011). Semalam hujan sangat deras, tak ayal jalan-jalan di lingkungan kami menjadi becek, namun tidak menyurutkankan mereka untuk mengikuti tour ini.  Jam menunjukan pukul 07.00 WIB semua peserta naik kemobil, Agan Uban mengambil bagian tugasnya untuk memimpin do’a. “Semua tenang, semua tenang, semua tenang tidak ada yang berbicara lagi, demi keselamatan kita mari bersama-sama kita memanjatkan doa, karena bagaimanapun juga orang tua kita merindukan kepulangan kita dengan selamat. Bissmillahi ... .” Begitulah kiranya Agan Uban membimbing murid-muridnya berdoa.

“Cegegeg, gegegegegeg” oh berbunyi mesin mobil yang kami tumpangi sedang dihidupkan dan tak lama kamipun melakukan perjalanan. “Musik, tarik mannnnnng…” terdengar suara lantang dari arah belakang  ternyata suara si Dadap (salah seorang siswa menyemangati perjalanan wisata kami). “Bayanganmu bayanganmu yang selalu hadir dalam hidupku …’ itu yang saya ingat dari penggalan lagu remix yang di sajikan Abah (seorang driver yang menghantarkan dan melayani  kami). 

Waktu menunjukan pukul  09.30, tak terasa mobil yang kami tumpangi sudah ada di daerah Ciawi – Bogor kami sudah akan keluar dari dalam tol Jagorawi , karena diingatkan oleh Abah untuk bayar tiket, maklum kebetulan saya yang memegang uang untuk biaya perjalanan,  saya pun tersadar, mungkin terlalu asyik saya mendengarkan lagu “Bayanganmu, hanya bayanganmu …”.

“Bang, bang … saya mau buang air kecil dulu, dah gak ketahan nih”. Ternyata Pak Tono dan Agan Uban. “Oh ya sudah”, saya menjawab, tetapi  “Tunggu-tunggu, Bah bisa gak kita berhenti dulu ada yang mau buang air kecil gak ketahan” katanya. “Oh ya sudah cepat mumpung lagi jalan ditutup satu arah” Abah menyahut. ”Alamdulilah legarasanya” Agan Uban berkata sambil berlalu untuk duduk kembali di bangkunya.  Perlahan mobil melaju untuk mendaki Daerah Puncak, “Wawwww, wawww, wawww …” terik anak-anak menikmati perjalanan yang sesekali mobil belok kekiri, kekanan, kekiri , kekanan, menanjak, meluncur, belok meluncur, ya begitulah jalur Puncak banyak tikungan tajam, namun kami tetap menikmatinya karena suasana pemandangannya yang hijau penuh dengan pepohonan yang rimbun dan hamparan kebun teh yang luas, perjalanan ini memang enak untuk dinikmati, terlebih udara yang dingin sudah menyelimuti kami  dan kabut yang turun rendah sesekali kabut kami terobos dengan gibasan tunggangan yang di kendalikan Abah.

“Tiktek, tiktek, tiktek, tiktek …” bunyi lampu sen untuk menandakan mobil belok kekanan dan ternyata kami sudah akan memasuki lokasi wisata Cibodas, tak lama kamipun tiba di depan gerbang masuk Kebun Raya Cibodas tepat pukul 10.30, saya segera mengambil alih tugas saya  yaitu membayar tiket masuk kendaraan dan parkir. Kami segera turun dan  berjalan menuju pintu masuk kebun raya. Lagi-lagi saya mengambil alih tugas saya memesan tiket masuk kebun raya.

Oh iya… hampir lupa, kami berangkat menggunakan dua kendaraan bus dan dua kendaraan pikup, 1 bus yang kami tumpangi adalah bersama anak-anak, 1 bus lagi di tumpangi oleh dewan guru dan staff, adapun 1 mobil pikup adalah Ibu Kepala (Ayi Nuryanah, S.Pd) dengan suami dan 3 orang anaknya, dan 1 mobil lagi Bang Haji Agus dan Istrinya (Hj. Masni Wulandari) beserta kedua orang tua kami . Tak banyak saya tau perjalanan mereka menuju Cibodas, karena mereka mengambil rute Cileungsi – Cariu – Cianjur – arah puncak, sedangkan 2 mobil bus yang kami tumpangi mengambil rute perjalanan Jatiasih – Tol Jagorawi - Ciawi – terus arah puncak. Pun begitu tak lama kami sampai di Cibodas merekapun sampai walau kami harus menunggu ± ½ jam,  cape juga ternyata pekerjaan menunggu, ya sabarlah semoga mendapat berkah. Amin.

“Bu tikarnya bu, tikarnya bu sembari di gelar” ternyata seorang jasa tukang tikar menawarkan tikarnya kepada kami, ini memang menjadi mata pencaharian mereka menyewakan tikar disana. Semua berkumpul, makanan buannnnnyak sekali di hidangkan, mulai dari rendang daging, telur, ayam goreng, tempe goreng, pepes ikan mas, tak lupa sambal, lalap, kerupuk, bihun, wah buanyak deh. “Pak makan pa” seorang teman menawakan makan pada saya untuk makan bersama, walaupun kami duduk dalam satu riungan tak lupa dia menawarkan saya, sebenarnya semuanya juga saling menawarkan, ya begitulah sepatutnya kita saling memberi untuk selalu mengikat persaudaraan kita di Mutiarajaya. Nikmat rasanya dapat berkumpul dengan teman-teman, apalagi sambil makan bareng, walau hujan rintik-rintik (tidak sampai membasahi kami) tetap kebersamaan itu tidak terganggu. Wah pokonya sueeeeru banget deh. Sehabis makan sayapun segera untuk menunaikan shalat dzuhur, dan tak lama teman-temanpun melaksanakannya karena makan siang sudah cukup mengenyangkan dari lapar kami.

Bunga sesuatu yang sangat dipuja, namun juga sangat mudah dilupakan karena bunga itu layu, dan tak lama disukai kembali setelah mekar dari kuncupnya, begitulah setersnya. Atau kepiting yang diam-diam menghanyutkan, tidak pernah mengganggu tak banyak tingkah namun tidak pernah gentar untuk menghadapi ancaman, bahkan rela patah kedua capitnya untuk mempertahankan jati dirinya, entah apa yang ada pada diri saya, namun di benak ini selalu ingin mendampingi anak-anak (khawatir takut-takut terjadi apa-apa), segera saya berjalan sendirian untuk memantau anak-anak yang sedang menikmati liburan ini, saya segera mengambil arah air terjun, berpikir anak-anak pasti disana karena cerita air terjun dimanapun tidak akan pernah hilang keindahannya, cepat saya berjalan tiba-tiba bertemu serombongan anak-anak kami yang sudah dari air terjun, dari informasi mereka banyak teman-teman lainnya disana. Saya tetap melanjutkan, untuk segera sampai di air terjun sesekali saya berlari ringan bila menemui anak tangga, saya pun tiba dengan sedikit nafas terpogoh-pogoh namun terbayar sudah setelah melihat keindahan ciptaan tuhan ini, tetapi sayang saya tidak bertemu dengan anak-anak, karena mereka sudah kembali melalui rute yang berbeda (jalan pintas). Tak apalah, karena keindahan yang saya dapatkan bukan cuma air terjun yang indah bergemericik namun banyak juga kaum hawa yang mandi di bawah air terjun yang saya pikir jauh lebih indah dari air terjun atau mungkin sangat-sangat indah kalau diperhatikan lebih dalam, (tettttt, disensor). Sudahlah… karena waktu sudah sore, saya takut temen-temen dan anak-anak sudah kumpul, dan hanya menunggu saya.

Ada jagung, lobak, peyeum (tape singkong), bengkuang, boneka, keripik daun bayam dan banyak lagi, ternyata temen-temen dan akak-anak sudah mempersiapkan oleh-oleh untuk di bawa pulang, maklum biasanya kalau jalan-jalan atau tour banyak orang rumah menanyakan “mana oleh-olehnya” setidaknya begitu pertanyaan yang ada. Dirasa cukup kegiatan tour kami, kamipun segera berfose (foto-foto gitu)  sebagai kenangan dikemudian hari, atau setidaknya kami dapat tersenyum untuk mengingat perjalanan hidup yang kami lakukan. Kamipun pulang, cukup rasanya letih kami di bayar dengan kegembiraan, tertawa bersama, makan bersama, dan pulang dengan selamat bersama pula.

Saudaraku dan mutiara-mutiara kecilku, Sulit memang bagi kita untuk menerima sebuah pepisahan, namun itulah kenyataannya. Saudaraku “Jauh dimata dekat di hati” begitulah kiranya gambaran kita esok. Walau kita mungkin akan jarang berjumpa namun kau semua selalu ada di hati terlbih mutiara-mutiara kecilku, kaulau penerus kami, kaulah kebanggan kami, kaulah harapan kami. Kutitipkan Mutiarajaya Kepadamu. Sudahlah kalau diteruskan jadi,  Sedsed (sedih). Hidup Muiaraku.

Minggu, 01 Mei 2011

Cinta dan Benci (Tenaga Dasyat Kehidupan Manusia)


Tenaga apakah yang menggerakkan kehidupan?. Cinta dan kebencian. Kedua-dua itulah yang mewarnai sejarah hidup manusia menjadi putih atau hitam. Kerana cinta, Adam dan Hawa bersatu. Kerana cinta, Taj Mahal di India terbina. Dan banyak lagi bukti di dalam dunia nyata ini betapa angungnya cinta itu.

Berawal dari cinta, cerita kehidupan diputar. Tapi sayang, sejak awal mula kisah sejarah manusia ini, cinta telah dikotori oleh kebencian. Kebencianlah yang menyebabkan Qabil membunuh Habil, sebuah tragedi paling tragis untuk pertama kalinya dalam sejarah kemanusiaan. Pembunuhan manusia oleh manusia. Ya, cinta dan kebencian pulalah yang saat ini kita saksikan meramaikan drama kehidupan. Dunia ini dipenuhi dengan kisah cinta yang begitu mempesona, juga kisah kebencian yang sangat memilukan.

Cinta membuat dunia menjadi kelihatan ‘hidup’, damai, sejuk, indah, penuh pesona. Sebaliknya kebencian menjadikan dunia ini nampak membujur kaku seperti mayat, seperti perkuburan. Aromanya menyengat tak ubahnya bangkai. Bunga-bunga menjadi layu. Setiap mata menatap penuh kekosongan, kesedihan dan kepiluan.

Cinta menawarkan titis-titis air yang sungguh menyejukkan. Setiap titisannya menghidupkan jiwa yang gersang. Tiap titisannya adalah syurga. Kebencian menyebarkan aroma darah, menitiskan air mata. Tiap titisnya membuat jiwa menjadi gersang. Tiap titisnya adalah api, membakar kehidupan. Panas yang luar biasa. Cinta menggerakkan kebaikan. Kebencian memunculkan kejahatan. Sejarah kebaikan adalah sejarah cinta. Sejarah kejahatan adalah sejarah kebencian. Maka tebarkanlah cinta di segenap penjuru dunia. Berjalanlah dengan cinta. Siramlah setiap relung jiwa yang hampa dengan cinta, niscaya ia menjadi hidup dan penuh pesona.

Pada tahun 1932 Albert Einstein menulis surat kepada Sigmund Freud untuk bertanyakan pendapatnya. Antara kandungan suratnya berbunyi, Apa yang dapat dilakukan manusia agar terhindar dari kutukan peperangan?

Pertanyaan itu muncul barangkali kerana dunia pada masa itu mash dihantui oleh Perang Dunia Pertama yang mengejutkan manusia diseluruh eropah, justeru akibat kerosakan dan penderitaan yang harus ditanggung oleh mereka. Sebagai seorang yang mempunyai keahlian ilmu jiwa, Freud menjelaskan dalam surat yang ditulis sebagai esei yang terkenal iaitu Why War (Mengapa Perang).

Dia menghuraikan tentang adanya dua insting atau lebih mudah disebut sebagai sifat utama manusia iaitu insting Cinta dan insting Benci.

Insting cinta itu baik. Kerana manusia yang memiliki insting ini akan mempunyai sikap positif dengan membawa kepada sikap peduli dan saling memberikan kasih sayang. Ini mengandaikan adanya kepedulian terhadap hidup orang lain, keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan orang lain.

Namun begitu insting ini juga membawa sekaligus insting kebencian kalau sikap cinta dan kasihnya terhadap orang lain disertai dengan niat memiliki kepada yang dicintainya itu. Dengan itikad ingin memiliki itu, maka terjadilah penguasaan, diktator dan penjajahan dari sipencinta kepada yang dicintai.

Dan kalau perasaan merasa tidak bebas dari yang dicintai ini memberontak, maka terjadilah konflik. Dan konflik ini selalunya diakhiri dengan pemberontakan dan saling mengadu kekuatan. Siapa yang kalah akan menjadi hamba dan siapa yang memang akan menjadi majikan atau dengan kata lain menjadi penguasa.

Maka dari itu bermulalah penderitaan manusia. Pada dasarnya hal-hal yang mirip dengan kedaan sedemikian dapat dilihat dalam praktikal kehidupan sehari-hari kita. Contohnya kedua ibubapa sering mengatakan dirinya sangat mencintai anak-anaknya, seringkali berubah menjadi diktator kepada anak-anaknya. Mereka mahu membentuk anak-anak itu mengikut kemahuanya sendiri.

Anaknya mesti menjadi seorang doktor agar hidupnya kelak tidak sia-sia dan mempunyai masa depan yang baik meskipun si anak merayu mahu memilih jurusan dalam bidang kesastrawan atau mungkin bidang-bidang lain yang sangat jauh bezanya dari bidang kedoktoran. Inilah salah satu konflik yang banyak terjadi dalam masyarakat kita. Bila hal-hal ini terjadi, kebanyakkan dari orang tua akan mengunakan kuasa veto’ mereka kepada si anak tadi supaya harus mengkuti kemahuanya. Dalam hal ini, kebahagiaan siapakah yang ingin diwujudkan? Kebahagiaan ibu bapa atau kebahagiaan anak?

Dalam akhbar harian atau tabloit mingguan seriang kita membaca tentang berita ada seorang lelaki yang telah beristri mencintai seorang gadis yang masih dara. Lalu cinta si lelaki tadi berbalas. Akan tetapi apabila istri kepada si lelaki tadi mengetahui bahawa suaminya mencintai wanita lain yang masih muda jelita apa lagi ianya masih dara, berkobarlah rasa bencinya dan dengan begitu tega membunuh si wanita jelita yang dicintai suaminya itu.

Insting cintanya telah berubah menjadi insting merosakan dan membenci, kerana lelaki yang telah mempunyai istri tadi ingin memiliki si gadis bagi kesenanganya sendiri. Boleh jadi juga si istri yang sebelum itu sangat mencintai suaminya akan turut sama membunuh suaminya kerana cintanya telah bertukar menjadi benci dengan mendadak.

Ada juga sebuah sekolah yang sangat ingin menjadi sekolah terbaik dalam negeri itu bahkan sangat ambisi untuk menjadi salah satu dari 10 buah sekolah yang terbaik dalam negara dengan tingkat kedisiplinan yang tinggi yang secara luaranya sangat terpuji. Maka demi ambisinya itu pemimpin sekolah tersebut sama ada Pengetua atau Guru Besar termasuk guru-guru pengajar menjadi diktator atas murid-muridnya. Dijalankan disiplin yang keras dan berunsur paksaan untuk belajar di luar kewajaran. Hari-hari murid, di sekolah atau dirumah, harus diisi dengan belajar dan belajar. Murid-murid dijadikan korban atas ambisi dan cita-cita sekolah.

Dari episod-episod diatas dengan mudah kita membuat kesimpulan betapa insting cinta boleh berubah menjadi insting benci jika disertai niat menguasai.

Ajaran-ajaran moral terbesar dalam sejarah umat manusia selalu menekankan adanya kasih sayang, cinta antara sesama manusia. Cintailah orang lain seperti saudaramu, meskipun ia berlainan budaya, berlainan kelas sosial, berlainan bangsa, berlainan negara, berlainan agama, usia, keturunan hingga berlainan taraf kehidupan.

Cinta menyatukan, mendamaikan, membahagiakan dan menyenangkan. Kebencian pula melahirkan konflik, kekerasan, perosakan, kebinasaan dan kehancuran umat manusia.

Seperti yang dikatakan Freud, naluri cinta itu berubah menjadi benci kalau disertai dengan nafsu ingin memiliki, iaitu dijadikan objek yang dicintai itu sebahagian dari kebahagiaan dirinya sendiri. Pemikiran ini dikembangkan oleh Erich Fromm dalam bukunya yang terkenal To Have and To Be (Memiliki Dan Menjadi).

Cara hidup ingin memiliki sebenarnya adalah naluri cinta yang berakhir dengan penderitaan, kerosakan, kebinasaan sehingga kematian dari yang dicintai. Cara hidup menjadi inilah hakikat cinta manusia yang sesungguhnya.

Kita mencintai seseorang bukan demi kepentingan semata-mata, tetapi demi yang kita cintai agar tumbuh dan berkembang mencapai kebahagiaanya sendiri. Dengan menolong orang lain, kita menjadi seorang penolong. Dengan memberi kepada orang lain, kita akan tumbuh menjadi seorang pemberi. Dengan melakukan kebaikan terhadap orang lain, diri kita akan tumbuh menjadi orang baik.

Nafsu ingin memiliki ini pula berpusat pada kepentingan diri sendiri. Dengan memiliki kita akan menguasai dan bebas mempergunakan kepemilikan kita untuk kebahagian kita sendiri.

Dalam cara mencintai dan cara hidup ini, maka harus ada yang manjadi korban kepemilikan. Anak menjadi korban kepemilikan ibubapa, si gadis menjadi korban nafsu seksualiti lelaki beristri, murid-murid menjadi korban atas pemburuan ranking nasional. Dari hal demikian, siapakah yang sebenarnya bahagia? Kita mencintai anak-anak kita justeru kerana sedar bahawa mereka adalah manusia dengan karakter dan bercita-cita lain dan tidak sama dengan kita sebagai ibubapanya. Kewajipan cinta kita pada mereka adalah membantu mewujudkan apa yang di inginkan dan apa yang boleh membantu mereka bahagia oleh kita kepada mereka yang kita cintai.

Mencintai , menolong, membantu, berbuat baik kepada orang lain boleh berubah menjadi tindakan diktator dan berakhir dengan jatuhnya korban percintaan, kalau kondisi dan keperluan yang kita cintai tidak di perhitungkan. Mencintai orang lain, berbuat baik untuk orang lain, ternyata tidak semudah yang kita duga. Mencintai dan berbuat baik itu bukan sekedar niat dan tindakan, tetapi juga dengan pengenalan, pengetahuan, pengorbanan, strategi terhadap yang kita cintai dan yang paling utama adalah keikhlasan mencintai tampa ada mempunyai rasa ingin memiliki terhadap sesuatu yang kita cintai itu. Kalau tidak demikian, maka cinta boleh menjadi malapetaka bagi yang kita cintai itu.

Kalau anda jatuh cinta, anda ingin tahu secara terperinci hidup orang yang anda cintai. Misalnya ketika pertama kali bertemu dalam kereta api atau dalam bas dalam sebuah perjalanan yang panjang. Bagaimana riwayat hidupnya, keluarganya, bintang horoskopnya, kesihatanya, cita-citanya dan lain-lain dalam erti kata hal-hal yang terpenting dalam hidupnya. Dan anda mempergunakan taktik melalui informasi itu untuk menyusun strategi bagaimana lebih jauh menaklukan hatinya.

Kalau kita mencintai orang miskin, orang menderita stres (dalam tekanan), orang kena musibah, orang yang sedang bingung, maka kita harus berbuat yang sama sepertinya dan turut merasakan betapa anda simpati dan ingin membahagiakannya.

Surat Einstein kepada Freud menyangkut hal-hal berkenaan dengan perang dan penderitaan serta membuat beberapa andaian kemungkinan lenyapnya spisis bernama manusia akibat perang dimuka bumi ini. Konflik kepentingan, kepemilikan, pemusnahan adalah naluri kebencian manusia. Seperti cinta, manusia juga harus mengenali, memahami dan merasakan akibat kebencian terhadap orang lain.

Dannion Brinkley yang menceritakan pengalaman mati sehingga dua kali dalam bukunya yang bertajuk Saved By The Light, mengisahkan bagaimana dirinya merasa rendah dan hina oleh kejahatan-kejahatanya memukuli orang lain semasa hidupnya. Ia bukan sahaja ingat secara terperinci akan perbuatanya, tetapi juga suasana dan perasaan si korban semasa dia menganiayanya. Dengan mengenali dan merasakan akibat kejahatanya, jiwa Brinkley menilai perbuatanya sendiri yang tidak baik itu. Mengenali dengan baik penderitaan, kebahagiaan, keinginan, kekuatan dan kelemahan yang kita cintai atau kita benci, kiranya dapat mengajar dan memberikan keinsafan kepada kita agar kita mencintai orang lain dengan lebih baik dan benar.

Mencintai sesama manusia itu tidak semudah yang difikirkan. Lebih mudah untuk ditulis dan dihuraikan serta dianalisis dari dijalankan atau di praktikalkan. Sebab cinta itu perbuatan nyata tetapi juga tidak nyata. Kerana ia melibatkan perasaan yang disertai dengan niat yang baik. Dan niat itu juga haruslah dibekali dengan keikhlasan dari keinginan untuk memiliki dan menguasai. Dan perasaan serta perbuatan itu hanya ada dalam diri si pencinta dan yang dicinta. Maka pengetahuan dan pengenalan ketiga unsur cintai itu harus di fahami sebelum terlibat dengan apa yang dinamakan CINTA.

Manakah sumber kekuatan kita?

Sedikit renungan, semoga bermanfaat..

“Tentang Cinta” syaiful bakri diposkan : anangnurcahyo